JEMARI YANG KEMBALI DIGENGGAM

 


JEMARI YANG KEMBALI DIGENGGAM

mBang Win + AI

Aku Ida Yuliati, seorang dokter spesialis forensik—satu-satunya di rumah sakit ternama di kotaku. Orang-orang biasa memanggilku Ibu Dokter, sementara rekan-rekan sejawat cukup menyapaku Dokter Ida.

Dulu, orang-orang mengira hidupku sempurna.

Suamiku, Prabowo, atau yang biasa kupanggil Mas Bowo, adalah seorang direktur perusahaan IT. Tubuhnya tegap, wajahnya khas Timur Tengah, dan kariernya cemerlang. Pernikahan kami berlangsung sembilan tahun dan dikaruniai seorang putra tampan bernama Abimanyu, yang sejak kecil kami panggil Abi.

Dari luar, kami adalah keluarga ideal. Rumah mewah. Mobil berkelas. Kehidupan berkecukupan. Namun, kemewahan ternyata tidak selalu menghadirkan kehangatan.

Aku menikahi Mas Bowo bukan karena cinta. Saat itu usiaku sudah menembus 30 tahun. Setelah cintaku patah, aku menjadi dingin terhadap lelaki. Desakan orang tua akhirnya membuatku menyerah. Aku menikah bukan karena hati memilih, melainkan karena merasa tak punya alasan untuk menolak.

Jauh sebelum Mas Bowo hadir dalam hidupku, ada seseorang yang pernah mengisi seluruh ruang di hatiku. Namanya ARJUNO.

“Ida, status sosial kita sangat jauh berbeda dengan status sosial keluarga Arjuno. Lihatlah kehidupannya, sangat sederhana bukan? Masih ditambah lagi soal pendidikan dan pekerjaan. Ida,  ayah tidak akan menerima menantu pilihanmu.”

“Ida, semua orangtua kepengin anaknya bahagia, Arjuno bukan jodohmu.”Kata ayah lebih lanjut.

Palu telah diketok. Aku hanya bisa pasrah. Takdir tidak berpihak kepadaku.

 “Ida, sejak awal aku sudah menyadari siapa diriku. Aku hanya anak petani yang kehidupannya pas-pasan. Sementara engkau, anaknya orang terpandang.”

“Juno, ma’afkan aku.”

“Ida, tidak ada yang perlu dima’afkan. Itu yang disebut takdir. Bukankah perkawinan itu takdir yang sudah ditentukan olehNya?”

Kami satu kelas selama tiga tahun di SMA. Aku biasa memanggilnya JUNO. Ia bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang petani, sementara hidup mereka jauh dari gemerlap yang dahulu dianggap penting oleh keluargaku.

Tetapi Juno memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak lelaki: ketulusan.

Aku masih mengingat sebuah malam Minggu belasan tahun lalu. Kami duduk di sebuah warung bakso sederhana. Malam itu Juno mentraktirku dengan uang hasil menjual tanaman hias gelombang cinta.

“Ida, biarkan aku kali ini yang mentraktirmu.”

“Kemarin ada orang yang membeli  tanaman hias gelombang cinta cukup banyak. Kebetulan aku punya tanaman yang diinginkan.”

Malam itu, kami pulang dengan bergandengan tangan.

“Ida, siapa pun tidak boleh menggandeng jemarimu.”

Entah mengapa, malam itu begitu melekat dalam ingatanku. Aku masih mengingat sentuhan lembut tangannya. Tatapan matanya. Senyumnya yang malu-malu ketika menyodorkan semangkuk bakso kepadaku.

Sayangnya, cinta kami harus berhadapan dengan tembok yang jauh lebih tinggi daripada perasaan kami. Ayahku menolak Juno. Baginya, cinta saja tidak cukup. Ada status sosial, ada bibit, bobot, bebet. Ada masa depan yang harus dihitung dengan ukuran yang menurutnya lebih masuk akal.

Juno tahu diri.

Kami pun berpisah dalam kepasrahan.

Setelah lulus SMA, aku menempuh pendidikan kedokteran. Sementara itu, Juno mengolah lahan peninggalan ayahnya menjadi pembibitan tanaman hias. Ia juga kuliah di Universitas Terbuka, mengambil jurusan Lanskap Pertamanan.

Waktu terus berjalan.

Aku menikah. Dan setelah itu, hubungan kami benar-benar terputus. Tak ada telepon. Tak ada pesan. Tak ada pertemuan. Seolah-olah Juno hanya bagian dari masa lalu yang harus kukubur dalam-dalam. Namun, masa lalu rupanya tidak pernah benar-benar mati.

Pernikahanku dengan Mas Bowo akhirnya hancur. Bukan semata karena cintaku sejak awal memang tak pernah tumbuh, tetapi karena pengkhianatan yang dilakukan berulang kali. Ia berselingkuh dengan staf kantornya. Bahkan, yang lebih menyakitkan, dengan asisten rumah tangga kami sendiri. Saat itulah rasa hormatku kepadanya benar-benar lenyap. Perceraian tak bisa dielakkan. Hak asuh Abi jatuh sepenuhnya kepadaku.

Dua tahun setelah perceraian itu, sebuah tugas membawaku ke area Rumah Sakit Bhayangkara. Pihak manajemen sedang menata taman peringatan dan bekerja sama dengan sebuah perusahaan konsultan lanskap terkemuka di kota.

Siang itu matahari terasa menyengat.

Aku berjalan melintasi area yang sedang ditata ketika pandanganku tertumbuk pada seorang pria yang berdiri tegak sambil memegang cetak biru rancangan taman.

Tubuhnya masih tegap. Wajahnya tampak matang, ditempa matahari dan waktu. Tetapi ada sesuatu yang membuat langkahku mendadak terhenti. Binar mata itu. Aku mengenalnya.

"Ida?"

Suara itu terdengar pelan. Langkahku benar-benar terhenti. Untuk beberapa detik, dunia seperti kehilangan suara. Suara itu tak pernah berubah.

"Juno?"

Ia tersenyum. Dan dalam satu detik, belasan tahun yang telah berlalu seperti runtuh di hadapanku.

Arjuno bukan lagi lelaki muda yang dahulu menjual tanaman hias di pinggir jalan. Kerja keras, kejujuran, dan ketabahannya telah mengubah usaha kecil peninggalan ayahnya menjadi perusahaan pengembang taman yang sukses.

Tetapi bukan keberhasilannya yang membuat dadaku sesak. Melainkan sebuah kenyataan yang baru kuketahui. Juno belum pernah menikah.

Sore itu kami duduk di sebuah kedai kopi yang remang. Setelah belasan tahun terpisah, kami akhirnya kembali berbicara seperti dua orang yang seolah baru kemarin berpisah.

"Aku menunggumu," katanya.

Aku terdiam.

"Setiap kali menata taman atau merawat bunga, aku selalu berdoa agar suatu hari semesta memberiku kesempatan untuk sekali lagi menggenggam jemarimu."

Air mataku jatuh.

Entah karena luka masa lalu yang kembali terbuka, atau karena untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa ternyata ada seseorang yang tetap menyimpan namaku di dalam doanya selama bertahun-tahun.

Juno tidak pernah menanyakan mengapa aku gagal mempertahankan rumah tangga. Ia tidak menghakimiku. Ia hanya menerimaku. Bahkan, ia menerima Abi dengan kasih sayang yang tak berbeda dari seorang ayah kandung.

Abi, yang selama ini merindukan sosok ayah, perlahan menemukan kenyamanan pada diri Juno. Ia menyukai sifat Juno yang sabar, tenang, dan selalu punya waktu untuk mendengarkan cerita-ceritanya.

Hubungan mereka tumbuh tanpa dipaksa. Seperti pohon yang menemukan tanah yang tepat untuk berakar. Orang tuaku pun akhirnya berubah. Mereka yang dahulu menolak Juno karena status sosial kini tak lagi memandangnya sebelah mata. Bukan semata karena Juno telah berhasil secara finansial, tetapi karena mereka melihat sendiri bagaimana lelaki itu memperlakukanku. Sesuatu yang dulu tidak pernah kudapatkan dari kemewahan pernikahanku.

Pernikahan kami akhirnya digelar sederhana. Tidak di hotel mewah. Tidak di gedung megah. Kami menikah di halaman belakang rumah produksi tanaman hias milik Juno, di antara rindangnya pepohonan dan bunga-bunga yang ia tanam sendiri. Tidak ada kemewahan berlebihan.

Saat Juno menyematkan cincin ke jariku, tangannya menggenggam jemariku erat. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan, persis seperti janji yang pernah diucapkannya bertahun-tahun lalu.

"Ida, siapa pun tidak akan aku perbolehkan memegang jemarimu lagi... selain aku."

Aku tersenyum di antara air mata. Dulu, aku pernah kehilangan jemari yang ingin menggenggamku karena tembok bernama status sosial.

Kini, setelah melewati pernikahan yang salah, pengkhianatan, perceraian, dan perjalanan panjang yang melelahkan, jemari itu kembali menemukan tempatnya. Di tangan lelaki yang sejak dulu tidak pernah benar-benar pergi.

Dan hari itu, setelah perjalanan yang begitu panjang, aku tahu—aku telah sampai di rumahku yang sebenarnya.

------------

Kebun Raya Residen BOGOR. 7 Oktober 2026

------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini