AKAD
mBang Win + AI
Lagu “Akad” karya Payung Teduh dirilis pada 2017. Lagu ini sempat memuncaki
Spotify Indonesia, meraih penghargaan AMI Awards 2017 serta SCTV Music Awards
2018, dan berhasil menembus Billboard Indonesia Top 100. Angka pemutarannya
sangat fantastis, melampaui 250 juta tayangan di YouTube sekaligus 250 juta stream
di Spotify. Kepopulerannya yang bertahan lama menjadikan “Akad” sering
dinyanyikan ulang, menghiasi pelaminan, dan terus membekas di hati banyak
orang.
-------------------
mBang Win + AI
Angin menggoyangkan
daun-daun flamboyan. Beberapa daun jatuh perlahan di antara mereka.
"Aku suka
jawabanmu," katanya.
"Kenapa?"
"Karena kamu
tidak pernah memaksaku."
JUNO mengangkat bahu.
"Mungkin karena
aku tahu, sesuatu yang dipaksa tidak akan pernah benar-benar menjadi milik
kita."
ALYA kembali diam.
Mereka kemudian
berjalan menyusuri trotoar. Kadang berdampingan, kadang berjauhan beberapa
langkah. Mereka tertawa ketika sebuah genangan air membuat sepatu Juno basah.
"Aku pernah
membayangkan sesuatu," kata Juno .
"Apa?"
"Menikah."
Alya berhenti
berjalan.
"Menikah dengan
siapa?"
Juno ikut berhenti.
"Dengan orang
yang kalau diajak berjalan dalam hujan tidak sibuk mencari tempat
berteduh."
Alya tertawa.
"Berarti kamu
mencari perempuan yang tidak takut hujan?"
"Bukan."
"Terus?"
"Perempuan yang
mau tetap berjalan meskipun hujan."
Alya menatapnya
beberapa detik.
"Lalu?"
"Lalu kalau
matahari terik, kami mencari pohon untuk berteduh. Kalau lapar, kami makan di
warung sederhana. Kalau punya uang lebih, kami pergi jauh. Kalau tidak punya
uang, ya tinggal di rumah."
Alya tersenyum.
"Romantis
sekali."
"Menurutku itu
bukan romantis."
"Lalu?"
"Itu hidup."
Malamnya, Juno memberanikan diri mengirim pesan kepada Alya.
“Aku
ingin hidup bersamamu.”
Pesan itu dibaca. Tidak
ada jawaban.
Satu jam, dua jam. Sampai
akhirnya layar ponsel Juno menyala.
“Aku
takut.”
Juno membalas.
Takut
apa?
Lama sekali tidak ada
jawaban. Kemudian muncul satu kalimat.
Takut
suatu hari kamu menyesal telah memilihku.
Juno tersenyum. Ia mengetik perlahan.
Aku
lebih takut menyesal karena tidak pernah mencoba.
Keesokan harinya, Juno
datang ke rumah Alya. Ia membawa sebuah kotak kecil. Bukan cincin. Hanya sebuah
kertas yang dilipat rapi.
Alya membukanya. Di
sana tertulis:
"Aku
tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Aku tidak menjanjikan kita akan selalu
tertawa. Aku bahkan tidak menjanjikan aku akan selalu benar. Tetapi kalau kamu
bersedia, aku ingin menjadi orang yang berjalan di sebelahmu ketika hidup
sedang baik maupun buruk."
Alya membaca sampai
selesai. Matanya berkaca-kaca.
"Ini
lamaran?"
Juno mengangguk.
"Kalau kamu
mau."
Alya memandang kotak
kecil di tangan Juno .
"Kenapa tidak ada
cincin?"
"Karena aku ingin
mendengar jawabanmu dulu."
Alya tertawa di antara
air matanya.
"Dasar
pelit."
"Kalau kamu
bilang tidak, aku tidak rugi beli cincin."
Alya memukul lengannya
pelan. Namun sebelum menjawab, Alya menarik napas panjang.
"Juno ..."
"Ya?"
"Aku harus
mengatakan sesuatu."
Juno mendadak diam.
"Aku mungkin
tidak bisa menikah denganmu."
Senyum Juno perlahan
menghilang.
"Kenapa?"
"Aku sakit."
Hening.
Alya menjelaskan bahwa
penyakitnya sudah lama diketahui. Pengobatan masih dilakukan, tetapi tidak ada
yang bisa memastikan berapa lama tubuhnya mampu bertahan.
Juno menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu
harus berkata apa. Alya menggenggam tangannya.
"Makanya aku
takut."
Juno menggenggam balik tangan itu.
"Kalau begitu,
kita jalani saja."
"Jalani
apa?"
"Yang masih bisa
kita jalani."
Alya menangis. Bukan
karena sedih. Mungkin karena untuk pertama kalinya ia menemukan seseorang yang
tidak bertanya berapa lama ia akan hidup, tetapi bertanya apa yang masih bisa
mereka lakukan bersama.
Mereka tidak jadi
mengadakan pesta besar. Tidak ada gedung mewah. Tidak ada ratusan undangan. Beberapa
bulan kemudian, di sebuah rumah sederhana, Juno dan Alya mengucapkan akad di
hadapan keluarga terdekat. Ketika ijab kabul selesai dan semua orang
mengucapkan syukur, Juno menatap Alya.
"Mulai hari ini,
kamu istriku."
Alya tersenyum.
"Dan kamu
suamiku."
Mereka tidak tahu
berapa panjang usia pernikahan itu. Tetapi mereka tahu satu hal. Mereka tidak
ingin menghitung hari yang tersisa. Mereka ingin menjalani setiap hari yang
diberikan. Mereka berjalan bersama. Kadang diterpa hujan. Kadang kepanasan. Kadang
tertawa karena hal-hal kecil. Kadang bertengkar karena sesuatu yang sepele. Namun
setiap malam, sebelum tidur, Juno selalu menggenggam tangan Alya. Seolah-olah
genggaman itu mengatakan:
Aku
masih di sini.
Sampai suatu pagi,
beberapa tahun kemudian, Alya meminta Juno membawanya ke taman tempat mereka pertama kali
bertemu. Tubuhnya sudah sangat lemah. Juno mendorong kursi rodanya perlahan. Mereka
berhenti di bawah pohon flamboyan.
"Masih ingat
tempat ini?" tanya Juno .
Alya mengangguk.
"Di sinilah kamu
pertama kali bilang ingin menikah denganku."
"Dan kamu bilang
aku pelit karena tidak membawa cincin."
Alya tertawa kecil. Lalu
mereka terdiam.
Matahari pagi
menyelinap di antara daun-daun. Alya menyandarkan kepala di bahu Juno .
"Kalau nanti aku
pergi..."
Juno segera memotong.
"Jangan bicara
begitu."
"Aku hanya ingin
mengatakan sesuatu."
Juno diam.
"Terima kasih
sudah tidak pernah membuatku merasa menjadi orang yang sakit."
Juno menunduk.
Alya menggenggam
tangannya.
"Selama
bersamamu, aku merasa hidupku panjang."
Air mata Juno jatuh. Alya
tersenyum.
"Padahal mungkin
tidak."
Juno memeluknya.
Mereka berdua diam
cukup lama. Tak ada janji untuk bertemu kembali di tempat tertentu.
Tak ada kata-kata
besar. Hanya pelukan panjang di bawah pohon flamboyan. Karena pada akhirnya,
cinta bukan tentang berapa lama seseorang tinggal. Cinta adalah tentang
bagaimana seseorang membuat waktu yang singkat terasa begitu berarti.
Dan ketika Alya
akhirnya menutup mata, Juno tetap
menggenggam tangannya. Seperti saat pertama kali mereka berjalan bersama. Bedanya,
kali ini Juno tidak sedang mengajak Alya
pergi ke mana-mana. Ia hanya ingin menemani istrinya sampai ujung waktu.
----------------------
Lirik Lagu Akad.
Betapa bahagianya hatiku
saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku
Namun, bila hari ini adalah
yang terakhir
Namun, ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya
Namun, bila kau ingin
sendiri
Cepat, cepatlah, sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya t'lah
tiba
Ku ingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana kemari dan tertawa
Namun, bila saat berpisah
t'lah tiba
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Namun, bila kau ingin
sendiri
Cepat, cepatlah, sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya t'lah
tiba
Ku ingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana kemari dan tertawa
Namun, bila saat berpisah
t'lah tiba
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Sudilah kau menjadi temanku
Sudilah kau menjadi
Istriku
------------
Kebun Raya Residen BOGOR. 9 Oktober 2026
------------

Komentar
Posting Komentar