BERTAUT
mBang Win + AI
Lagu
“BERTAUT” karya Nadin Amizah, yang dirilis pada 28 Mei 2020 sebagai bagian dari album
perdananya, Selamat Ulang
Tahun. Lagu yang berhasil meraih Piala Anugerah Musik
Indonesia 2020 untuk kategori Karya Produksi Folk/Country/Balada Terbaik ini
bukan sekadar deretan nada dan lirik puitis, melainkan ungkapan cinta dan
terima kasih seorang anak kepada ibunya, tentang ikatan batin yang tak pernah
benar-benar putus meski jarak dan waktu mencoba memisahkannya. Tak heran jika
hingga 4 November 2026, “Bertaut” telah diputar sekitar 792,3 juta kali di Spotify — hampir 800 juta kali, sebuah bukti bahwa jutaan hati
pernah bertaut pada melodi yang sama, dan dari sanalah kisah ini bermula.

mBang Win + AI
Dunia di luar sana
sering kali terasa liar dan tak bersahabat, seperti landak yang dipenuhi duri
atau hujan deras yang tak kunjung reda. Di tengah riuh dan dinginnya jalanan
kota—saat raungan sepeda motor masih memekakkan telinga pada jam dua pagi—aku
tersadar betapa hidup kadang berjalan begitu keras, persis seperti yang dulu
pernah kucatat di kertas kecil saat awal merantau.
Di tengah kerasnya
dunia itu, ada Bunda. Ia bukan tipe perempuan yang mudah menyerah, tak pernah
mengeluh, dan pantang meminta dikasihani. Seberat apa pun keadaan
menjatuhkannya, ia selalu punya cara untuk kembali berdiri tegak.
Kalau aku menangis
karena lututku terluka setelah jatuh dari sepeda, Bunda tidak langsung
menggendongku.
“Berdiri,” katanya.
Aku menatapnya dengan
mata berkaca-kaca.
“Sakit, Bun.”
“Memang sakit. Tapi
kamu masih punya kaki untuk berdiri.”
Aku membencinya saat
itu. Kini, setelah dewasa, aku baru mengerti. Bunda bukan tidak menyayangiku, justru
karena terlalu menyayangiku. Ia ingin aku tahu bahwa hidup tidak selalu
menyediakan tangan untuk mengangkat kita. Ada saatnya kita harus bangkit
sendiri.
Ayah meninggal ketika
aku baru duduk di kelas dua SMP. Sejak hari itu, rumah kami terasa lebih luas
sekaligus lebih sepi. Kursi tempat Ayah biasa duduk di teras dibiarkan kosong.
Cangkir kopinya masih tersimpan di rak dapur selama berbulan-bulan. Bunda tidak pernah memindahkannya. Aku pernah
bertanya mengapa.
“Bun, buat apa
disimpan terus?”
Bunda tersenyum.
“Tidak semua yang
kosong harus segera diisi.”
Aku tidak mengerti. Seperti
banyak hal lain yang dikatakan Bunda. Kalimat itu baru kupahami bertahun-tahun
kemudian.
Sejak Ayah pergi, Bunda
menjadi ayah sekaligus Bunda bagiku. Pagi-pagi
ia berjualan nasi uduk di depan rumah. Siang bekerja mencuci pakaian tetangga.
Malam, setelah aku tidur, ia masih menjahit pakaian untuk menambah penghasilan.
Aku sering pura-pura
tidur ketika mendengar suara mesin jahitnya.
Tak-tak-tak-tak...
Suara itu menjadi
bagian dari masa kecilku. Kadang aku membuka mata sedikit dan melihat punggung Bunda
membungkuk di bawah cahaya lampu. Tubuhnya semakin kurus. Tetapi ia selalu
mengatakan dirinya baik-baik saja.
“Capek, Bun?”
“Tidak.”
“Bohong.”
“Kalau Bunda bilang capek, kamu mau menggantikan?”
Aku terdiam. Bunda tertawa kecil.
“Makanya belajar yang
rajin.”
Aku tumbuh menjadi
anak yang keras kepala. Mungkin terlalu keras kepala. Setiap kali bertengkar
dengan Bunda, aku merasa akulah yang paling benar. Ketika diterima kuliah di
kota lain, aku ingin pergi. Bunda menentang.
“Uang kita tidak
cukup.”
“Aku bisa kerja
sambilan.”
“Belajar saja dulu.”
“Aku tidak mau hidup
seperti ini terus, Bun!”
Bunda terdiam.
Aku menyesal beberapa
detik kemudian, tetapi gengsiku terlalu tinggi untuk meminta maaf. Malam itu
aku melihat Bunda duduk sendirian di teras. Tidak menangis, hanya memandangi
jalan yang gelap.
Besok paginya, sebuah
amplop diletakkan di meja kamarku. Di dalamnya ada uang. Tidak banyak. Tetapi
cukup untuk biaya keberangkatanku.
Di bagian belakang
amplop tertulis: Pergilah. Jangan kembali hanya karena merasa kasihan kepada
Bunda .
Aku membaca kalimat
itu berkali-kali. Untuk pertama kalinya aku menangis karena Bunda
Bahwa kegagalan bisa
datang berkali-kali. Bahwa teman dapat pergi ketika kita tidak lagi punya
sesuatu untuk diberikan. Aku pernah gagal ujian. Pernah ditolak pekerjaan. Pernah
kehabisan uang hingga makan hanya sekali sehari.
Suatu malam, aku
menelepon Bunda.
“Bun...”
“Kenapa?”
Aku diam.
“Menangis?”
“Tidak.”
Bunda tertawa kecil.
“Kamu kalau bohong
persis seperti Ayahmu.”
Aku akhirnya menangis.
“Aku gagal, Bun.”
“Besok coba lagi.”
“Aku malu pulang.”
“Siapa yang menyuruh
pulang?”
“Aku merasa tidak
mampu.”
“Kalau belum mampu,
belajar. Kalau jatuh, bangun. Kalau malu, simpan malunya. Jangan simpan putus
asanya.”
Telepon terputus.
Aku duduk lama di
kamar kos. Malam itu aku sadar, mungkin selama ini Bunda bukan sekadar tempat aku pulang. Ia adalah
alasan aku terus berjalan.
Sepuluh tahun
kemudian, aku mendapatkan pekerjaan yang baik. Aku membeli rumah. Membawa Bunda
tinggal bersamaku, tetapi Bunda tidak
betah.
“Rumahmu terlalu
besar,” katanya.
“Bukankah Bunda senang?”
“Besar belum tentu
ramai.”
Aku tertawa.
“Keras kepala.”
Bunda menatapku.
“Siapa yang
mengajari?”
Kami tertawa bersama. Saat
itu aku melihat wajah Bunda yang mulai
dipenuhi keriput. Rambutnya semakin putih. Tangannya yang dulu kuat mengangkat
ember kini sering gemetar ketika menuangkan teh. Tiba-tiba aku merasa takut. Takut
kehilangan satu-satunya orang yang selama ini membuatku merasa dunia masih memiliki
tempat untuk pulang.
Suatu pagi, Bunda jatuh
di dapur. Aku membawanya ke rumah sakit. Dokter mengatakan kondisinya melemah
karena usia. Aku duduk di samping ranjangnya. Untuk pertama kalinya aku
memegang tangan Bunda seperti ketika aku
masih kecil.
Tangannya dingin.
“Bun.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Bunda membuka mata.
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya.”
Ia tersenyum.
“Baru sekarang?”
Aku tertawa sambil
menahan air mata.
“Maaf.”
“Untuk apa?”
“Dulu sering
membantah.”
“Sekarang juga masih.”
Aku tertawa.
Air mataku jatuh. Bunda
menggenggam tanganku. Lemah, tetapi hangat.
“Jangan menangis.”
“Aku takut kehilangan Bunda.”
Bunda terdiam sebentar. Kemudian berkata pelan,
“Semua orang akhirnya
pergi.”
Aku menunduk.
“Tapi sebelum pergi,
kita harus memastikan orang yang kita tinggalkan bisa berjalan sendiri.”
Aku menggenggam
tangannya lebih erat.
“Kalau Bunda pergi,
aku harus berjalan ke mana?”
Bunda tersenyum.
“Ke depan.”
Beberapa hari
kemudian, Bunda meninggal. Tidak ada suara keras. Tidak ada perpisahan panjang.
Ia hanya tertidur setelah subuh dan tidak pernah membuka mata lagi. Rumah
mendadak menjadi sangat sunyi.
Aku berjalan ke dapur.
Melihat kursi Bunda. Melihat cangkir tehnya. Melihat mesin jahit tua yang
selama bertahun-tahun tidak pernah ia buang.
Aku duduk di kursi
itu.
Untuk pertama kalinya,
aku memahami semua yang dulu tidak kupahami. Mengapa ia menyuruhku berdiri
ketika jatuh. Mengapa ia membiarkanku pergi. Mengapa ia tidak pernah meminta
aku kembali. Mengapa ia selalu berkata bahwa hidup harus diteruskan.
Aku menatap kedua
tanganku. Aku tersenyum. Cara tanganku menggenggam cangkir ternyata persis
seperti Bunda. Cara aku mengerutkan dahi ketika marah. Cara aku tertawa ketika
malu. Bahkan cara aku diam ketika sedih.
Tiba-tiba aku sadar. Bunda
memang sudah pergi. Tetapi ternyata ia tidak benar-benar meninggalkanku. Ada
sesuatu darinya yang tetap hidup dalam diriku. Bukan sekadar kenangan. Melainkan
cara aku menjalani hidup. Cara aku mencintai. Cara aku bertahan.
Aku berdiri dan
membuka pintu rumah. Udara pagi masuk perlahan. Untuk pertama kalinya setelah
kepergian Bunda, aku merasa mampu melangkah. Bukan karena aku sudah tidak
kehilangan. Tetapi karena aku tahu, di dalam setiap langkahku, ada langkahnya.
Di dalam setiap detak
jantungku, ada detak jantung perempuan yang sepanjang hidupnya mengajariku satu
hal: bahwa cinta tidak selalu tinggal dalam bentuk kehadiran.
Dan terus hidup... di
dalam diri orang yang ditinggalkan.
------------------
Bertaut
Lagu Nadin Amizah ‧ 2020
Lirik
Bun, hidup berjalan seperti
bajingan
Seperti landak yang tak punya teman
Ia menggonggong bak suara hujan
Dan kau pangeranku mengambil peran
Bun, kalau saat hancur, ku
disayang
Apalagi saat ku jadi juara
Saat tak tahu arah, kau di sana
Menjadi gagah saat ku tak bisa
Sedikit kujelaskan
tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama
denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar'na denganmu
Aku masih ada sampai di
sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar'na denganmu
Bun, aku masih tak mengerti
banyak hal
Semuanya berenang di kepala
Dan kau, dan semua yang kau tahu tentangnya
Menjadi jawab saat ku bertanya
Sedikit kujelaskan
tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama
denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar'na denganmu
Aku masih ada sampai di
sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar'na denganmu
Semoga lama hidupmu di sini
Melihatku berjuang sampai akhir
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar'na denganmu
Hu-oh-oh, hu-uh-ho, hu-oh
------------
Kebun Raya Residen BOGOR. 8 Oktober 2026
------------
Komentar
Posting Komentar